post

Saat ini Dirjen Pajak benar – benar memanfaatkan perkembangan IT dan internet untuk mengejar target pajak untuk APBN 2016. Pada saat ini Dirjen Pajak menggunakan aplikasi Geotagging untuk meningkatkan kinerja Dirjen Pajak. Dan karena Dirjen Pajak masih kekurangan tenaga kerja sedangkan jumlah peningkatan wajib pajak tiap tahunnya meningkat. Sehingga para pegawai perpajakan tidak perlu melihat ke rumah dan tempat usaha satu per satu. Dengan aplikasi Geotagging ini Dirjen Pajak akan mengambil foto usaha – usaha yang ramai kemudian akan dicocokan dengan data – data NPWP wajib pajak usaha tersebut dengan tujuan pengecekan kebenaran wajib pajak dalam membayar pajak dan mengecek apakah usaha tersebut sudah terdaftar dalam perpajakan. Dengan aplikasi Geotagging ini Dirjen Pajak dan KPP akan lebih dekat dengan wajib pajak dan masyarakat.

Aplikasi Geotagging adalah aplikasi berbasis website yang menggunakan peta seperti pada Google Maps. Semua KPP akan diberikan aplikasi tersebut untuk memantau wajib pajak dan mencari wajib pajak yang curang. Jika ketika wajib pajak dideteksi Geotagging tidak mempunyai NPWP maka akan bertanda warna merah dan KPP setempat akan memberikan surat peringatan. Dengan aplikasi ini, Dirjen Pajak dan KPP setempat dapat menyelidiki objek – objek pajak yang berpotensi. Hanya cukup mendokumentasikan kemudian dari sistem dicocokan dengan data – data wajib pajak. Untuk aplikasi Geotagging Dirjen Pajak tidak terlalu memakan biaya yang terlalu banyak sehingga tidak menggunakan uang negara dan lebih efisien. Pada saat ini Dirjen Pajak sedang memasukan titik koordinat lokasi KPP di seluruh Indonesia, ditargetkan pada bulan April 2016 KPP sudah bisa menggunakan aplikasi Geotagging.

Klien Kami "saat ini"